Gejala glaukoma stadium awal yang sering diabaikan penderitanya sebenarnya tidak selalu berupa keluhan yang jelas. Pada jenis yang paling umum, yaitu glaukoma sudut terbuka, penyakit dapat berkembang perlahan tanpa nyeri dan tanpa perubahan penglihatan yang disadari. Karena masih bisa membaca atau melihat wajah dengan jelas, seseorang mungkin menganggap matanya baik-baik saja.
Padahal, glaukoma dapat merusak saraf optik, yaitu saraf yang membawa informasi penglihatan dari mata ke otak. Kerusakan penglihatan akibat glaukoma umumnya tidak dapat dipulihkan. Karena itu, memahami keterbatasan gejala dan menjalani pemeriksaan sesuai risiko lebih penting daripada menunggu penglihatan terganggu.
Mengapa Glaukoma Stadium Awal Sulit Disadari?
Glaukoma merupakan kelompok penyakit yang menyebabkan kerusakan saraf optik. Tekanan di dalam bola mata yang meningkat adalah salah satu faktor risiko penting, tetapi bukan satu-satunya. Sebagian orang mengalami glaukoma meskipun hasil pengukuran tekanan matanya berada dalam kisaran normal.
Pada glaukoma sudut terbuka, kerusakan biasanya berlangsung bertahap. Bagian tertentu dari lapang pandang dapat terganggu sementara ketajaman penglihatan pusat masih terjaga. Otak dan mata yang kondisinya lebih baik juga dapat membantu menutupi kekurangan tersebut, sehingga perubahan tidak langsung terasa.
Artinya, tidak ada nyeri, mata merah, atau pandangan kabur bukan jaminan seseorang bebas glaukoma. Kemampuan membaca tulisan kecil pun tidak cukup untuk memastikan saraf optik sehat.
Perubahan Penglihatan yang Perlu Diperhatikan
Keluhan berikut layak diperiksakan, tetapi tidak semuanya merupakan gejala khas glaukoma awal. Bahkan, ketika gangguan sudah terasa, kerusakan bisa saja telah berlangsung cukup lama.
1. Penglihatan Samping Mulai Terganggu
Seseorang mungkin lebih sering tidak menyadari benda atau orang yang datang dari sisi kanan atau kiri. Ada pula yang mulai menyenggol benda saat berjalan, meskipun penglihatan lurus ke depan terasa jelas.
Gangguan lapang pandang memang dapat berkaitan dengan glaukoma. Namun, pada stadium awal, perubahan ini sering terlalu halus untuk dikenali sendiri dan baru terdeteksi melalui pemeriksaan. Penglihatan seperti melihat melalui terowongan lebih menggambarkan kerusakan lanjut, bukan tanda awal yang harus ditunggu.
2. Kesulitan Melihat pada Kondisi Kontras Rendah
Kesulitan membedakan objek dari latar belakangnya, terutama ketika pencahayaan kurang baik, dapat terjadi pada berbagai gangguan mata, termasuk glaukoma. Contohnya adalah sulit mengenali tepi anak tangga yang warnanya hampir sama dengan lantai.
Keluhan ini bukan penanda pasti glaukoma dan tidak dapat digunakan untuk menentukan stadium penyakit. Jika baru muncul, menetap, atau mengganggu aktivitas, pemeriksaan mata diperlukan untuk mencari penyebabnya.
3. Pandangan Kabur yang Dianggap Sekadar Mata Lelah
Pandangan kabur sering dikaitkan dengan penggunaan layar, kurang tidur, atau perubahan ukuran kacamata. Penyebabnya memang beragam, antara lain mata kering, kelainan refraksi, dan katarak. Pandangan kabur bukan gejala khas glaukoma sudut terbuka stadium awal.
Meski demikian, keluhan yang berulang atau memburuk sebaiknya tidak terus diatasi dengan mengganti kacamata atau memakai obat tetes tanpa pemeriksaan. Dokter perlu menilai apakah ada masalah pada permukaan mata, lensa, retina, atau saraf optik.
Bedakan dengan Tanda Glaukoma Akut yang Darurat
Tidak semua glaukoma berkembang tanpa keluhan. Serangan glaukoma sudut tertutup akut dapat menyebabkan peningkatan tekanan mata secara cepat dan mengancam penglihatan. Kondisi ini berbeda dari glaukoma sudut terbuka yang sering berjalan perlahan. Namun, glaukoma sudut tertutup juga dapat berlangsung kronis tanpa gejala jelas.
Waspadai terutama gejala yang muncul mendadak, seperti:
- Nyeri mata berat, sering disertai mata merah.
- Penglihatan mendadak kabur atau menurun.
- Melihat lingkaran pelangi di sekitar sumber cahaya, terutama bersama nyeri.
- Sakit kepala berat, mual, atau muntah yang menyertai keluhan mata.
Jika mengalami kombinasi gejala tersebut, segera ke IGD atau layanan darurat mata. Jangan menunggu keluhan membaik sendiri. Penurunan penglihatan mendadak, meskipun tanpa nyeri, juga membutuhkan penilaian segera karena dapat disebabkan kondisi darurat lainnya.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Glaukoma bisa terjadi pada berbagai usia, tetapi risikonya meningkat seiring pertambahan usia. Pemeriksaan menjadi semakin penting jika Anda memiliki faktor berikut:
- Usia di atas 40 tahun, terutama dengan faktor risiko tambahan.
- Orang tua atau saudara kandung yang menderita glaukoma.
- Tekanan bola mata yang pernah dinyatakan tinggi.
- Riwayat cedera mata atau kondisi mata tertentu.
- Rabun jauh tinggi, yang berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis glaukoma.
- Penggunaan obat kortikosteroid, terutama jangka panjang, termasuk tetes mata tertentu.
Beri tahu dokter tentang seluruh obat yang digunakan. Jangan memakai tetes mata steroid tanpa pengawasan, tetapi jangan pula menghentikan obat resep secara mendadak tanpa berkonsultasi. Jenis obat, dosis, dan lama pemakaian memengaruhi risikonya.
Pemeriksaan Apa yang Dibutuhkan?
Glaukoma tidak dapat dipastikan hanya dari keluhan atau satu kali pengukuran tekanan mata. Dokter spesialis mata dapat melakukan beberapa pemeriksaan sesuai kebutuhan:
- Tonometri untuk mengukur tekanan di dalam bola mata.
- Pemeriksaan saraf optik, termasuk pencitraan OCT bila diperlukan, untuk menilai kerusakan struktur.
- Pemeriksaan lapang pandang untuk mencari bagian penglihatan yang terganggu.
- Gonioskopi untuk menilai sudut drainase cairan mata, serta pengukuran ketebalan kornea bila diperlukan.
Jadwal pemeriksaan dan kontrol disesuaikan dengan usia, faktor risiko, serta hasil pemeriksaan sebelumnya. Jika memiliki keluarga dengan glaukoma, diskusikan pemeriksaan meskipun belum ada keluhan.
Jangan Menunggu Gejala Menjadi Jelas
Pesan terpenting tentang gejala glaukoma stadium awal adalah bahwa penyakit ini sering tidak memberikan peringatan yang terasa. Pemeriksaan mata menyeluruh merupakan cara utama untuk mendeteksinya sebelum kehilangan penglihatan semakin luas.
Jika glaukoma terdiagnosis, penanganan dapat berupa obat tetes, laser, atau operasi sesuai kondisi. Tujuannya adalah menurunkan tekanan mata dan memperlambat atau mencegah kerusakan lebih lanjut, bukan mengembalikan penglihatan yang sudah hilang. Gunakan terapi sesuai petunjuk dan tetap kontrol meskipun mata terasa normal.