Kesulitan membaca tulisan di papan, melihat rambu jalan, atau memusatkan pandangan pada layar ponsel bisa menjadi tanda kelainan refraksi. Kondisi ini termasuk penyebab gangguan penglihatan yang umum dan sering kali dapat dikoreksi dengan alat bantu yang sesuai.
Meski demikian, penglihatan kabur tidak selalu disebabkan oleh kebutuhan memakai kacamata. Mengenal kelainan refraksi mata dan pilihan cara mengatasinya membantu Anda memahami kapan perlu menjalani pemeriksaan serta menentukan langkah penanganan bersama tenaga kesehatan.
Apa Itu Kelainan Refraksi Mata?
Kelainan refraksi adalah kondisi ketika cahaya yang masuk ke mata tidak terfokus tepat pada retina, yaitu lapisan peka cahaya di bagian belakang mata. Akibatnya, gambar yang diterima otak tampak kurang tajam atau kabur.
Normalnya, kornea dan lensa membelokkan cahaya agar jatuh pada retina. Proses ini dipengaruhi oleh panjang bola mata, bentuk kornea, serta kemampuan lensa menyesuaikan fokus. Perbedaan pada struktur atau fungsi tersebut dapat menyebabkan gangguan penglihatan untuk jarak jauh, dekat, maupun keduanya.
Jenis-Jenis Kelainan Refraksi
1. Miopia atau Rabun Jauh
Miopia membuat objek jauh terlihat kabur, sedangkan objek dekat biasanya lebih jelas. Cahaya terfokus di depan retina, umumnya karena bola mata terlalu panjang atau daya pembiasan mata terlalu kuat. Keluhan dapat terlihat saat membaca papan tulis atau mengenali wajah dari kejauhan. Miopia sering mulai muncul pada usia sekolah dan dapat bertambah selama masa pertumbuhan.
2. Hipermetropia atau Rabun Dekat
Pada hipermetropia, cahaya cenderung terfokus di belakang retina ketika mata tidak melakukan penyesuaian fokus. Aktivitas melihat dekat dapat terasa melelahkan. Anak dan dewasa muda terkadang masih mampu melihat cukup jelas karena lensanya bekerja lebih keras. Namun, pada tingkat tertentu, penglihatan dekat maupun jauh dapat terganggu.
3. Astigmatisme atau Mata Silinder
Astigmatisme terjadi ketika kelengkungan kornea atau lensa tidak seragam, sehingga cahaya tidak membentuk satu titik fokus yang tepat. Objek dapat terlihat kabur, terdistorsi, atau berbayang pada berbagai jarak. Kondisi yang dikenal sebagai mata silinder ini dapat muncul bersamaan dengan miopia maupun hipermetropia.
4. Presbiopia atau Mata Tua
Presbiopia merupakan penurunan kemampuan memfokuskan penglihatan dekat akibat lensa yang semakin kaku seiring bertambahnya usia. Keluhan biasanya mulai terasa sekitar usia 40 tahun, misalnya harus menjauhkan bacaan agar tulisan lebih jelas. Presbiopia berbeda dari hipermetropia, meskipun keduanya dapat menyebabkan kesulitan melihat dekat.
Gejala dan Pemeriksaan yang Diperlukan
Gejala kelainan refraksi tidak selalu sama pada setiap orang. Beberapa tanda yang sering muncul meliputi:
- Penglihatan kabur pada jarak tertentu.
- Sering menyipitkan mata agar objek terlihat lebih jelas.
- Mata terasa lelah setelah membaca atau bekerja di depan layar.
- Sakit kepala, terutama setelah aktivitas visual yang lama.
- Pada anak, duduk terlalu dekat dengan televisi atau kesulitan mengikuti pelajaran di papan tulis.
Pemeriksaan dapat mencakup pengukuran ketajaman penglihatan, pemeriksaan refraksi untuk menentukan kekuatan lensa, serta penilaian kesehatan mata. Pada anak, dokter terkadang menggunakan tetes mata khusus untuk merelaksasi kemampuan fokus agar hasil pengukuran lebih akurat. Pemeriksaan penting karena keluhan serupa juga dapat muncul akibat penyakit mata lain.
Pilihan Cara Mengatasi Kelainan Refraksi
Kacamata
Kacamata merupakan pilihan koreksi yang praktis dan aman bagi banyak orang. Jenis serta kekuatan lensanya disesuaikan dengan hasil pemeriksaan. Untuk presbiopia, pilihannya dapat berupa kacamata baca, bifokal, atau progresif, tergantung kebutuhan penglihatan dan kenyamanan pengguna.
Memakai kacamata sesuai resep tidak membuat mata menjadi malas atau otomatis menambah ukuran minus. Perubahan ukuran dapat terjadi karena pertumbuhan mata, usia, atau kondisi kesehatan tertentu.
Lensa Kontak
Lensa kontak dapat menjadi alternatif bagi orang yang menginginkan bidang pandang luas atau kurang nyaman memakai kacamata saat beraktivitas. Namun, pemilihan dan pemasangannya perlu disesuaikan dengan kondisi permukaan mata.
Cuci dan keringkan tangan sebelum menyentuh lensa, gunakan cairan perawatan yang sesuai, serta ikuti jadwal penggantian. Jangan membersihkan lensa dengan air keran atau air liur. Hindari tidur, mandi, dan berenang dengan lensa kontak karena dapat meningkatkan risiko infeksi kornea.
Operasi Refraktif
Prosedur seperti LASIK, PRK, dan SMILE mengubah bentuk kornea untuk mengurangi ketergantungan pada kacamata atau lensa kontak. Pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pilihan berbasis lensa tanam.
Tidak semua orang cocok menjalani tindakan tersebut. Penilaian meliputi kestabilan ukuran refraksi, ketebalan dan bentuk kornea, kondisi mata kering, serta kesehatan mata secara menyeluruh. Risiko seperti mata kering, silau, lingkaran cahaya, atau sisa kelainan refraksi perlu dibahas. Operasi juga tidak menghentikan proses penuaan lensa, sehingga kacamata baca mungkin tetap diperlukan kemudian.
Perawatan Harian dan Pengendalian Miopia Anak
Kebiasaan sehat dapat membantu kenyamanan mata, tetapi tidak menggantikan koreksi yang diperlukan. Langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Beristirahat dari pekerjaan jarak dekat. Aturan 20-20-20, yaitu melihat sekitar enam meter selama 20 detik setiap 20 menit, dapat membantu mengurangi kelelahan mata.
- Gunakan pencahayaan yang cukup dan hindari membaca dengan jarak terlalu dekat.
- Dorong anak beraktivitas di luar ruangan secara rutin dengan perlindungan matahari yang sesuai. Kebiasaan ini membantu menurunkan risiko munculnya miopia.
- Jalani pemeriksaan berkala sesuai usia, keluhan, dan anjuran tenaga kesehatan.
Pada anak dengan miopia yang terus bertambah, dokter mata dapat mempertimbangkan metode pengendalian khusus, seperti lensa tertentu atau atropin dosis rendah. Tujuannya memperlambat perkembangan miopia, bukan menghilangkan minus. Latihan mata, suplemen, dan melepas kacamata belum terbukti dapat menyembuhkan kelainan refraksi.
Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?
Segera periksakan diri jika penglihatan mendadak menurun, mata nyeri atau merah berat, muncul kilatan cahaya atau banyak bintik melayang baru, maupun terasa ada tirai menutupi pandangan. Jangan menganggap keluhan tersebut sekadar perubahan ukuran kacamata.
Dengan pemeriksaan yang tepat, sebagian besar kelainan refraksi dapat dikoreksi sehingga aktivitas sehari-hari menjadi lebih nyaman. Pilihan terbaik perlu disesuaikan dengan kondisi mata, usia, kebutuhan, dan hasil konsultasi.